The Journey Begins: Purwokerto – Surabaya

Posted: October 27, 2012 in INDONESIA, JAWA (Java)
Tags:

16 Desember 2011

Purwokerto-Jogja naik bus eksekutif Effisiensi. Yang harus diingat: Beli tiket di bawah! Gara-gara kebiasaan naik dulu baru ditagih bayar tiket sama kondektur, aku kecele. Udah hampir terusir dari bus, padahal aku udah hampir 1 jam nunggu di dalem bus.

Dan demikianlah, aku dapet satu-satunya tempat duduk yang tersisa.

Perjalanan Jogja-Purwokerto lebih lambat 1 jam dari biasanya. Baru jam 15.30 WIB aku naik shuttle sampe di KFC Jakal dalam kondisi hujan deras. Idenya Rinsky sih, berhubung dia mau jemputnya naik motor, tapi bagus lah, karena aku cukup kelaparan (sarapan jam 7 pagi). Ternyata dia jemput naik mobil, sama temenya, yang vokalis Rock The World, Panggih. Awalnya Panggih kelihatan pendiem, tapi aku rada curiga, soalnya ada tampang-tampang + aura-aura Raditya Dika. Setelah beberapa sesi makan bersama (buset, berapa sesi), barulah ketahuan kalo ternyata obrolan kami nyambung banget untuk ukuran sesama orang gemblung yang barusan kenal.

Ke Jogja, tentu saja yang wajib dikunjungi adalah my beibz, Ruth alias Boo Bee (nama yang terbentuk setelah mengalami metamorfosis, reinkarnasi, serta radiasi). Dia sekarang udah jadi inang-inang warung nasi, makanya kami niatnya sekalian mau minta makan gratis. Abis makan, kami menuju Ambarukmo plaza, shopping kebutuhanku buat di kapal, sekalian sesi makan berikutnya. Kali ini aku rada was-was karena gak bawa duit selayaknya makan di mall, berhubung mau pergi jauh, tapi tanpa duit memadai di rekening. Hahaha, biarin aja.

Kelar belanja & makan, aku nunggu kabar dari Anton di rumah Rinsky. Hujan tambah lebat. Aku dibuatin hot chocolate sama mamanya Rinsky. Awww… udah lama gak minum hot chocolate. Sambil nge-charge semua peralatan elektronik, aku tiduran (dan kebablasan tidur) sampe Anton telpon. Masih gerimis agak gede, aku dianterin ke Babarsari naik motor.

23.50 WIB Jogja – Surabaya

Bus Handoyo kelas bisnis AC, harga tiket Rp 30.000,- saja, nyegat di depan perempatan Babarsari deket Mirota. Denger-denger sih setiap jam selalu ada, dengan berbagai merk dan kelas. Bersyukurnya kami dapet bus yang kami naiki. Kenapa? Karena bawaan kami cukup banyak (3 tas + 1 gitar klasik) dan badan kami gede-gede (ukuran satu seperempat manusia normal di Indonesia), jadi bus yang cukup sepi dengan tersedianya kursi berderet untuk 3 orang sangatlah menguntungkan…

Dalam bus kami berusaha tidur, walau rada susah. Merem melek gak karuan, plus supirnya ngebut kayak dikejar setan (analogi yang gak bisa dipertanggungjawabkan soalnya kita gak ada yang tau speed-nya setan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s