Day 7: Wantiro, Palabusa, Kolagana, Karing-karing

Posted: October 27, 2012 in INDONESIA, SULAWESI, SULAWESI TENGGARA (South East Sulawesi)

22 Desember 2011

Selamat Hari Ibu 🙂

Banyak yang nulis status “I love you, mom…” di facebook maupun di BBM. Anton bilang, “ibumu belom tentu pake BB, apalagi punya account facebook…”. Dika tulis status “kasih anak sepanjang status, kasih ibu sepanjang doa”. Like this!

Dengan bunyinya alarm HP Anton yang luar biasa mengganggu (kedengeran banget sampe kamarku di lantai 2), kami bangun jam 5 pagi, niatnya mau jalan-jalan pagi. Setelah melek bener, berangkat ke Wantiro, atau yang disebut juga Kolema. Disana ada tempat nongkrong, yang dibuat sedemikian rupa sehingga banyak orang jualan mulai sore sampe malem. Dari sini kita bisa liat laut luas ke arah dermaga, sebagian kota Bau-bau, serta beberapa pulau kecil dekat pulau Buton. Trade mark Wantiro: tulisan Bau-bau besar, yang dulunya dikasih lampu supaya kalo malem dinyalain, tapi sekarang udah rusak. Dibalik tulisan itu, ada prasasti “Bau-bau Kota Semerbak”. Nah kan, kota ini bukan baU, tapi Semerbak (Sejahtera, Menawan, Ramah, Bersih, Aman, Kenangan).

Dari Wantiro, kami pergi ke bunderan yang memamerkan adipura untuk kota Bau-bau. Lalu ke benteng lagi. Dari atas benteng, kami bisa lihat lembah dengan hutan lebat di sampingnya masih berkabut tebal. Dimana kita bisa lihat “ijo-ijo” di pulau Jawa coba? Terakhir ke pantai Kamali lagi.

Aku diajak lihat bagian lain dari taman kota (yang selama ini ketutupan ruko-ruko kecil dan gerobak-gerobak pedagang). Ternyata ada kolam yang cukup besar, yang biaya pembangunannya juga pasti gak sedikt. Sayang banget kolam ini gak difungsikan. Mestinya bisa jadi kolam renang atau kolam ikan, tapi isinya air hujan sama sampah. Seorang teman bilang daripada bikin kolam begini kan mendingan budget-nya dipake buat biayain fakir miskin dan anak-anak terlantar disitu.

Kami pikir mo beli air minum & sayur, tapi gak jadi karena nyasar. Sotoy sih, ngerasa tau jalan. Akhirnya beli nasi kuning yang nemu di pinggir jalan, trus bobo sampe agak siang gara-gara baru tidur 3 jam tadi. Bangun, mandi, makan, nungguin hujan reda, trus berangkat ke desa Palabusa – tempat pembudidayaan rumput laut dan mutiara – yang gak kalah jauhnya sama Kampung Bajo. Disini ada dermaga kayu yang langsung menarik perhatianku. Walau awan hujannya wow, tapi anak-anak lokal menyajikan atraksi salto yang gak kalah wow, karena mereka seneng banget di foto. Kata guide kami, “harusnya kalo anak-anak sini suruh jadi atlet renang pasti jagoan ya.. soalnya mereka latihan berenangnya di laut, melawan arus.” Bener juga tuh. Udah ada yang searching atlet kesini belum ya?

Kami lihat rumput laut yang baru diambil, yang dirangkai buat dibudidayakan di laut, juga yang lagi dijemur. Rumput laut yang udah kering, dijual dengan harga Rp 7.500/kg ke pengepul. Dari situ, kami lihat proses pembersihan kerang mutiara, yang kemudian di bor cangkangnya, lalu di rangkai pake senar untuk dikembalikan ke laut sampai mutiara siap dipanen (kurang lebih 4 bulan). Sambil nungguin seorang kenalan pulang dari kota, kami berteduh dari hujan lebat di rumah penduduk setempat. Mereka ramah luar biasa. Motor kami juga dimasukin halaman mereka supaya gak kehujanan. Gini nih sisi lain Indonesiaku… jadi mau nangis rasanya.

Akhirnya kenalan kami pulang juga. Kami singgah ke rumahnya, ngobrol dengan suguhan teh hangat. Orang lokal di Palabusa gak jual mutiara ke perusahaan. Biasanya mereka jual ke Bali, makanya yang terkenal malah Bali, bukan Sulawesi, yang adalah penghasilnya. Kalo perusahaan besar udah jual mutiara sampe ke luar negeri. Harga jual langsung cuma sekitar Rp 10.000 – 20.000,- doang per butir. Walau begitu, penduduk Palabusa masih lebih makmur dibandingkan Kampung Bajo.

Kami dikasih tau cara nentuin kualitas mutiara. Ada kelas A, B, C, sampai D. Kita bisa liat dari bentuknya: mulus / ada benjolan gak. Semakin mulus, kualitasnya semakin bagus. Mutiara yang asli warnanya putih, tapi bisa diwarna permanen. Biasanya diwarnain item atau pink. Bahan dasarnya juga plastik kualitas bagus, jadi mutiara disini kualitasnya memang kualitas ekspor. Arwan gak cuma memasarkan mutiara butiran, tapi juga yang udah dijadiin kerajinan, seperti gantungan kunci dan liontin. Mereka menerima pesanan sesuai desain yang diinginkan konsumen lho. Berminat? Hubungi saya. Hohoho… serius nih, buat bantuin kesejahteraan para petani mutiara di Indonesia tercinta kita.

Kami pulang membawa sampel 1 kresek. Masih berbentuk kerang dengan mutiara yang menempel di cangkangnya. Tasku jadi bau amis >< tapi biarin aja. This is priceless!

Setelah berjuang mencari tukang tambal ban, sampailah kami di Kolagana. Disini ada kolam legendaris yang airnya tawar walaupun disekelilingnya laut. Waktu itu aku belom ngerti keajaiban itu, soalnya pemandu wisatanya gak bilang sih (kayaknya kecapekan)… Baru bilang pas di Bau-bau. Takjubnya telat deh. Harusnya kalo pas disana jadi bisa nyicipin airnya. Eh, tapi belom tentu juga ding, soalnya tadi ada yang kencing disitu. Aww…

Dalam perjalanan pulang, kami mampir di kampung Bali, Karing-karing, untuk beli lauk: masakan khas Bali. Makannya di rumah seorang teman yang tinggal dekat situ. Udah nebeng, kami minta nasi putih pula (dimintain di tetangga pula karena di rumah teman kami lagi kehabisan nasi putih). Masih disuguhi kue-kue Natal. Kyaa… memanjakan perut nih. Pelampungnya tambah gede.

Comments
  1. hAi, Kakz.
    Salam kenal. Sy gak sgaja visit blognya. SOalx ada temax ttg Baubau. Hehhee.
    Oh iya, smoga dari Baubau bisa meninggalkan kesan yang indah ya. Aamiin…

    Btw, mw ngoreksi sedikit. Boleh kan?
    Tempat yang ada letter ‘Baubau’ itu namanya Bukit Kolema. Nah, yg sebelum Bukit Kolema, namanya Wantiro. Jadi beda2 namanya. Hehehe…
    Makasih.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s