Day 6: Kampung Bajo

Posted: October 27, 2012 in INDONESIA, SULAWESI, SULAWESI TENGGARA (South East Sulawesi)

21 Desember 2011

Hari ini bangun rada kesiangan lagi. Kami cepat-cepat sarapan, trus berangkat ke Pasar Wajo, sekitar 65km dari kota Bau-bau.

Disana ada Kampung Bajo. Sebuah perkampungan yang dibangun di atas laut dangkal. Untuk sampai ke perkampungan tersebut, kami harus melewati sebuah jembatan beton (yang jelas udah rusak disana-sini) sepanjang kurang lebih 300 meter. Rumah-rumah penduduk disini terbuat dari kayu (rumah panggung). Jembatan-jembatan papan sederhana menghubungkan jembatan beton dengan rumah-rumah mereka.

Sebelum jalan-jalan dan motret-motret, kami menemui kepala dusun setempat. Tadinya mau ngobrol di rumahnya, tapi pas kebetulan disitu lagi ada orang dari pemerintahan, jadi kami diajak ke kantor. Dari tadi ngeliatin mereka nyebrang jembatan papan dengan enaknya, ternyata setelah ngadepin sendiri… wakz!! Papan-papan itu cuma selebar 20cm, setebal kurang lebih 3cm. Kadang ada yang di dobelin 2 (kanan kiri), tapi ya masih aja serem. Apalagi dengan berat badan segini, aku bertanya-tanya dalam hati, “sanggupkah papan-papan ini menanggung bebanku?” Tiap kali diinjek, papannya langsung melengkung ke bawah. Pemandangan air laut sekitar 1,5m dibawah jembatan bikin jantung berdesir, ditambah angin kencang karena mendung, rintik-rintik gerimis udah mulai turun… rasanya kayak menerjang badai (lebay), padahal kalo jatoh ya paling-paling basah dan memar plus keseleo. Anton jalan duluan. Dia teriak-teriak pas aku mau ikut nyebrang, “cici, jangan ikut naik dulu!! Gantian!!”

Kami ngobrol sama para perangkat desa tersebut. Disini ada sekitar 100 kepala keluarga, belum ada sekolah maupun puskesmas. Sekolah terdekat ada di Pasar Wajo, jauhnya kurang lebih 20km dari sini. Dengan kendala begini, banyak dari mereka yang masih buta huruf. Oya, ongkos naik ojek dari Bau-bau sampe Pasar Wajo bisa mencapai Rp 150.000,-.

Bersyukurnya,untuk pelayanan kesehatan, pemerintah udah support. Setiap bulan ada pemeriksaan kesehatan yang jadwalnya ditentukan sama kepala dusun. Masalahnya, itu kan sebulan sekali doang. Kalo sehari-hari mereka butuh dokter, ya harus ke Pasar Wajo. Sedih lagi, lihat banyak perokok disini. Ah… Indonesiaku… Kenapa mesti merokok sih? Bukannya itu berarti bunuh diri, membunuh orang-orang di sekitarmu, membunuh lingkunganmu dan membunuh tabunganmu?

Tadinya disana udah dibangun saluran air tawar. Tapi ada oknum-oknum iseng (yang bikin gemes), yang merusak pipa-pipa saluran air itu. Jadi mereka cuma menikmati air tawar selama 2 hari, abis itu air keran keluarnya asin lagi. Untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari, mereka naik perahu sambil membawa gentong atau jerigen, untuk mengambil air sungai, cukup jauh dari perkampungan. Itu air buat mandi sama nyuci doang. Kalo air minum, mereka harus beli. Harganya mahal, seliter Rp 10.000,-.

Sebentar lagi akan diadakan pemilu disana. Mereka mau diajari demokrasi (?). Pemilu pertama diadakan untuk memilih kepala dusun. Kepala dusun yang sekarang adalah untuk sementara, nanti tanggal 24 Desember mereka baru pemilu untuk memilih kepala dusun yang baru, yang sesuai hati nurani rakyat (?).

Jujur aku sedih banget. Jembatan betonnya sih bagus, tapi udah rusak. Saluran air tawar juga gak diperbaiki. Gak ada guru yang tinggal disini sampe banyak yang buta huruf. Layanan kesehatan sebulan sekali. Apa rakyat (termasuk pemerintah) di Indonesia udah terlalu terbiasa sama keadaan yang begini? Udah merasa nyaman tanpa merasa perlu meningkatkan kesejahteraan mereka? Apa yang bisa kulakuin ya buat mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s