Day 5: Benteng, Pantai Nirwana, Sungai Kabura Burana

Posted: October 27, 2012 in INDONESIA, SULAWESI, SULAWESI TENGGARA (South East Sulawesi)

20 Desember 2011

Aku baru turun hampir jam 8 pagi. Padahal udah melek dari tadi, kayak biasanya. Mencoba menengok keluar jendela, berharap menyaksikan breathtaking sunrise. Ternyata mendung… Dikatain Anton, “cewek macam apa kau jam segini baru bangun?” Kujawab dengan muka memelas tapi membela diri, “udah bangun dari tadi kok, cuma baru turun aja.” Dibales lagi, “Cewek macam apa kau jam segini baru turun?” Iya deh. Untung masih ada cucian piring, jadi aku masih bisa bantu cuci piring.

Pertamanya takjub karena keran di dapur gak nyala. Trus aku perhatiin ada 2 baskom isi air, jadi aku tanya, “ini mekanisme mencucinya gimana ya?” Nah, berhubung airnya terlihat gak layak buat mencuci peralatan makan, jadilah host kami selalu nyuci piring pake air mateng, yang dituang ke 2 baskom tadi. Peralatan makan disabunin dulu, trus masuk ke baskom pertama, abis itu baru dibilas bersih di baskom kedua. Yeah, luar biasa. It’s fun, but sometimes you might get upset with everything… dibutuhkan kesabaran (dan kecuekan) ekstra.

Pagi ini kami belajar mengucapkan Bau-bau dengan benar. Jadi kesannya gak kayak ngomong “baU-baU”, tapi lebih mirip “bow-bow” (in English). Aduh, jadi geli, soalnya selama ini bikin Bau-bau terkesan seperti kota yang baU. Kemaren seorang teman juga sempat ngasih tau, “gak ada yang ngalahin ‘mi’-nya Makassar.” Aku pikir makanan, ternyata itu imbuhan kalo orang ngomong. Mirip sama “lah”, “dong”, “deh”. Penasaran, aku mulai perhatiin orang menggunakan “mi” (atau “di”). Contoh: “ayo, mi!”, “mahal sekali, mi?!”, dll (begitu pula dengan “di”, masalah kebiasaan aja).

Kami berencana cek harga tiket pesawat. Tadinya sih mau naik kapal lagi, tapi yang kelas 1. Cuma setelah dipikir-pikir lagi, mendingan naik pesawat aja kalo harganya gak beda jauh. Info penerbangan Bau-bau ke Surabaya:

Baubau-Makassar: Express Air, Wings Air, Merpati

Makassar-Surabaya: Citilink, etc (googling aja lah :P)

Rute alternatif:

Baubau-Kendari naik kapal cepat (aku naik Express Cantika 99). Kelas ekonomi Rp 120.000,-; VIP Rp 200.000,- (no smoking room, 48 seats)

Kendari-Surabaya: Lion Air (connecting flight via Makassar)

Agak siang, aku diajak ke benteng terbesar di Asia. Bangunan tua ini masih berdiri kokoh menghadap ke laut, beserta meriam-meriam yang mungkin dulunya kelihatan mengerikan. Panjang banget sih memang. Kayak gak abis-abis diputerin. Waktu itu aku lagi mikir. Di pulau Buton ini masih ada peninggalan sejarah yang begitu keren, tapi berapa banyak orang Indonesia yang tau? Di tempat kami berhenti, ada masjid yang konon bisa menampung orang sebanyak-banyaknya tanpa pernah penuh. Di sepanjang benteng ini juga ada beberapa pemakaman bangsawan. Sebutan untuk raja dan ratu: laode dan waode.

Kami juga sempat mampir di sebuah taman tempat orang pacaran. Disitu ada beberapa tempat duduk yang memang disedian buat nongkrong. Hati-hati aja, disini banyak “ranjau” alias kotoran hewan.

Menuju pantai Nirwana. Sekali lagi aku dibuat kagum sama karya Tuhan. Pantai ini tenang, mirip sama pantai pak Joni di Karimunjawa, tapi dengan perpaduan pantai Indrayanti di Wonosari. Banyak pondok-pondok buat orang duduk-duduk (ada yang ditulisin “disewakan”). Airnya jernih banget, tapi kami datang pas lagi rada pasang, jadi gak bisa jalan sampe agak jauh ke tengah.

Perjalanan berlanjut ke sungai Kabura Burana dengan air terjun yang keren abis. Kami bisa jalan naik sampe ke bagian atas air terjun (bukan hulu lho). Dengan seluruh keberanian yang ada, aku mengabaikan ikan-ikan kecil demi pengalaman naik ke atas sana. Untung belom pedicure, jadi kapal-kapal kasar di kakiku ini membantu aku gak kepleset di batuan licin sungai. Mantap banget lah ini… segar! Disitu ada orang mandi juga. Kayaknya nasib air mereka sama kayak di rumah host kami, jadi mungkin mereka pikir mendingan mandi di sini.

Pas turun lagi, ada jalan tanah & bebatuan sampe ke tempat kami naruh tas. Kukira aku nginjek batu kerikil tajem jadi jempol kakiku nyut-nyutan (yang tiap melangkah terasa nusuk sampe ke jantung… ceila), ternyata jempolku yang indah itu ketusuk duri yang cukup panjang. Pantesan…

Ngomongin jempol kaki, aku sama Anton ngomongin kenapa aku gak bakalan tenggelam di laut. Itu karena badanku terbuat dari pelampung. Pipi, leher, lengan, perut, pantat, betis, sampe jempol kaki semuanya terbuat dari pelampung. Sarkasme sih… aku lagi gendut banget. Tapi jempol kakiku tetep gendut sekalipun aku kurus (too much information). Hati-hati, Anton suka nggigit lengan (ini info penting).

Pulangnya diiming-imingi cerita tentang resort keren punya walikota, tapi kami gak jadi kesana. Karena aku udah masuk angin berat juga sih. Beli pisang 1 sisir (Rp 5.000,-), sirsak (Rp 5.000 – 7.000,-), nanas (Rp 10.000,- dapet 3), kacang panjang seiket & jagung muda sekresek kecil (masing-masing Rp 2.000,-). Buat makan malam nih ceritanya.

Kami batal nyuci baju karena ujan terus (alasan doang). Disini juga ada laundry kok, jadi tenang deh walo airnya keruh, masih bisa nyuciin baju. Cuma ya emang rada mahal. Sekitar hampir 2x lipat harga laundry di Jawa (perbandingan sama Jogja sih). Sekilo Rp 7.000 – 8.000,-; yang kilat 2x lipat harga biasa.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir warung makan, tapi aku masih mual, jadi cuma minum teh anget. Sorenya baru pergi ke KFC beli cream soup sama perkedel. Harganya Rp 3.000,- lebih mahal daripada di Jawa. Tapi lebih enak, karena lebih asin. Hahaha… apa karena masaknya pake air laut? Awwww… don’t you dare to think about that.

Buat makan malam, kami masak ca kacang panjang + jagung muda (jagung mudanya tebel kulit doang, makanya dicampur), sama goreng pisang. Pisang goreng ini jauh lebih enak daripada yang beli di pantai Kamali. Mungkin karena masaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang… aw…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s