Day 4: Finally… Bau-bau

Posted: October 27, 2012 in INDONESIA, SULAWESI, SULAWESI TENGGARA (South East Sulawesi)

19 Desember 2011

Pagi bangun jam 04.30 WITA, sikat gigi & cuci muka, saat teduh, bobo lagi. Dibangunin Anton pas sarapan jam 06.00 WITA: telor ceplok bumbu Bali, bihun goreng, sambal, abon beli di Carrefour.

Bengong lagi sampe agak siang. Terkatung-katung di lautan. Kami kira bakalan sampe Bau-bau sore menjelang malam, tapi barusan dihalo-halo kalo kami bakalan nyampe sekitar jam 13.00 WITA, yang berarti 3 jam lagi. Aduh, aku deg-degan rasanya. Masih kayak mimpi.

11.00 WITA Makan siang: ayam bacem, sayur sawi santen, ikan tongkol balado, sambal.

Ngabisin waktu di kapal, kami potret-potret keadaan di kapal buat dokumentasi. Parahnya, aku naik tangga sampe sekoci sebelom sempat baca peringatan dilarang naik! Oops… disini udah cukup banyak pelanggaran: kelas Ekonomi dilarang masuk lorong kelas 1 & 2 tapi masih aja masuk & tidur disitu, dilarang melewati batas railing kapal tapi railingnya malah buat duduk-duduk ngadep ke laut, dilarang judi tapi terang-terangan main gaplek di depan musholla!!

Istirahat sejenak sambil memandangi laut, aku perhatiin ada ikan kecil-kecil yang suka bergerombol, trus tau-tau berlompatan keluar kayak akrobat. Pas berharap liat lumba-lumba (sambil baca mantra “lumba-lumba… lumba-lumba…”), tiba-tiba aku liat ada sirip hitam kayak sirip hiu nongol dari kejauhan. Excited, aku teriak, “sirip! Sirip!” sambil nunjuk-nujuk. Ternyata beneran lumba-lumba!! Ada beberapa lagi yang nongol bergantian. Walo gak sampe lompat-lompat kayak di film dokumenter National Geographic, tapi tetep aja keren! Baru kali ini aku liat lumba-lumba di laut lepas.

Trus aku kepikiran sesuatu yang spektakuler dan ganti mantra, “ikan paus… ikan paus…” (kayaknya ini bagian dari mabok laut tanpa muntah).

13.00 WITA Bau-bau

Here I am!!🙂

Port of Bau-bau. Dijemput beberapa teman ke lokasi calon taman bacaan. Nonton para pejuang tangguh kita lagi bikin rak buku. Bantu-bantu dikit, megangin triplex pas digergaji doang sih😛

Makan es krim Buton. Ada banyak rasa: vanila, coklat vanila, ketan item, mocca biscuit, nangka, dll. Harganya cuma Rp 2.000,-. Yang aku makan rasa ketan item. Enak, mirip tape. Satu hal bodoh : aku baru tau kalo Bau-bau adalah sebuah kota, bukan pulau. Yang pulau itu Buton. OMG… ketahuan deh kalo geografinya parah. Aku buka Wikipedia demi tau latar belakang tempat dimana aku berada ini… awww… tapi soal kisaran suhu yang tercantum disana sama sekali gak akurat. Disini panaassss. Bisa lebih dari 33 derajat Celcius.

Terus ke rumah host kami (homestay nih), tak lupa bawa kasa nyamuk buat dipasang di kamarku. Ceila kamarku… Waktu liat bak mandi, cukup waooww… soalnya ini lagi musim ujan, jadi airnya coklat ditambah genangan persis minyak yang terapung diatasnya. Tapi lumpurnya udah lumayan mengendap sih, cuek aja mandi. Aku udah gak ganti baju 2 hari nih!! Terakhir mandi cuma pas setengah jam sebelom kapal merapat di Makassar.Tapi rencana cuci baju dibatalkan karena air ini tidak baik untuk baju putih.

Ngeliat pemandangan dari jendela kamarku di lantai 2. Terpukau. How amazing my God is! Bukit dan laut… Jadi keinget Karimunjawa. Aku mengamati lingkungan sekitar situ. Ada rumah-rumah berdinding beton, ada juga rumah-rumah berdinding anyaman bambu maupun kayu-kayu beratapkan sirap. Anton bilang, “tuh ci, liat, pemandangan mengenaskan: rumah gedong jejeran sama gubuk derita.” Heart breaking view…

Makan malam: nasi putih, tempe goreng, telur dadar. My first dining in Bau-bau! Semuanya jadi terasa menakjubkan ya… Ah….

20.00 WITA

Pergi ke pantai Kamali sama teman-teman baru. Mirip alun-alun kota nih. Kami makan gorengan – pisang kipas, ote-ote,tahu, dll & minum saraba (minuman khas sini: susu jahe) yang bikin ketagihan, apalagi dengan suasana hujan gerimis begini. Anton udah heboh dari tadi, “kalo belom makan pisang kipas, berarti belom ke Bau-bau!” padahal pisang kipas itu pisang goreng biasa (yang hampir gak ada rasanya), cuma di iris sedemikian jadi menyerupai kipas.

Di tengah-tengah tempat nongkrong itu ada patung naga. Aku kasih fotonya pas siang-siang, jadi kelihatan jelas. Sayang banget di kolam bagian bawahnya penuh sampah. Oh, Indonesiaku… Dan di beberapa tempat emang banyak patung naga. Aku tanya sama host kami, “Bau-bau emang simbolnya naga ya?”. Ceritanya, dulu ratu pertama keraton sini adalah orang Cina, jadi warga sini bikin patung naga buat “woro-woro” kalo Bau-bau ada hubungan sama Cina, dengan harapan negara yang perekonomiannya sedang maju pesat itu mendatangkan banyak investor di Bau-bau. Hasilnya? Orang keturunan Cina lokal (Tionghoa Indonesia) yang banyak investasi disini. Kekayaan alam pulau Buton diantaranya: aspal, jambu mete, nanas, rumput laut, tripang, dan mutiara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s