Day 3: Di Tengah Lautan, Daratan Makassar

Posted: October 27, 2012 in INDONESIA, SULAWESI

18 Desember 2011

Bangun jam 4 pagi (05.00 WITA). Masih sepi banget. Aku ke kamar mandi, cuci muka & sikat gigi doang. Mau mandi males. Hohoho… kembali tiduran sebentar, lalu keluar motret sunrise. Jangan mikir ini kapal mirip Titanic. Mau liat sunrise aja mesti rada rebutan sama penumpang kelas Ekonomi yang tidurnya “berserakan” di seluruh penjuru kapal. Mereka dilarang keras merokok dalam ruangan kapal, jadi mereka pada ke dek luar buat ngerokok. Bersyukur masih pagi, jadi ada sedikit ruang buat berdiri & motret sunrise pertamaku di KM Lambelu.

07.00 WITA menu sarapan: nasi, pindang telur, mie goreng, sambal.

Balik ke kamar. Kembali menulis. Bingung gak ada kerjaan, bobo lagi. Mau nongkrong di kafetaria, ternyata gak terlalu cocok buat nongkrong. Tempatnya terbuka, mayoritas cowok, banyak orang ngerokok, pada nonton komedi lokal yang diputer di TV sambil ketawa ngakak-ngakak. Lebih persis sama warung kopi atau angkringan modern.

Nguping teman sekamar ngomongin transmigrasi. Seorang ibu muda, udah menikah 2 kali (padahal kayaknya umurnya lebih muda dari aku tuh), udah punya 2 anak cewek. Satu dari mantan suami, kelas 5 SD, udah mau dinikahin sama orang. Yang dia bawa sekarang masih sekitar umur 5 tahun. Dia ngikut suaminya yang ngotot mau transmigrasi ke Bau-bau. “Cowok dimana-mana sama aja, 1000:1 yang baik, jadi mendingan saya ikut aja, daripada anak saya nangis.”  Maksudnya, dia pikir, pasti suaminya bakalan cari istri lagi kalo dia gak ikut. Ibu ini sepertinya gak terlalu pintar, tapi dia memutuskan sesuatu secara naluriah buat kebaikan anaknya.

Dia juga cerita kalo ada tetangganya yang transmigrasi sampe beberapa kali cuma buat dapet tanah gratis dari pemerintah, karena dalam jangka waktu tertentu, tanah yang ditempati para transmigran itu jadi hak milik mereka. Awww… my beloved country, with such unbelievable human resource

11.00 WITA

Ngemil Pop Mie sambil ngobrol di dek luar, nonton laut yang gak tau batasnya dimana. Ngeliatin orang pada buang sembarangan di laut. Pencemaran!! Pengen teriak “Jangan nodai Indonesiaku dengan sampah busukmu!!”

Tapi abis itu ada 3 orang nanya, “mbak, orang Tionghoa ya?” *terpana*

Pengen rasanya kujawab pertanyaan itu dengan nyanyian: “nenek moyangku seorang pelaut” (gak nyambung mode ON). Aku gak ngerti bahasa Mandarin, bisanya Bahasa Indonesia sama Jawa ngapak.

12.00 WITA menu makan siang: nasi, gado-gado, ayam goreng tepung, pindang ikan (yang kata Anton amis banget)

Di restoran sempat denger percakapan orang-orang meja sebelah. Aku bagi aja deh, biar ketawa (atau muntah) bersama. Random nih, tiap kalimat dalam tanda petik gak ada hubungannya satu sama lain:

“Apa? Gak ada sinyal? Kasian deh lo… aku udah beli sinyal 2 liter kemaren di Tanjung Perak!”

“ Polytron? Polytron gak bisa baca! Dia gak sekolah soalnya… hmm.. kalo Samsung sekolah.”

Oya, ada hiburan dangdut, sayangnya Anton gak jadi joget di depan. Lagunya cukup menghibur juga (Alay, by Lolita):

alay, anak layangan

nongkrong pinggir jalan sama teman-teman

dia keliatan anak pergaulan yang doyan kelayaban

alay gaya kaya artis sok selebritis,

norak norak abis pilihannya najis,

aduh aduh narsis alay… jangan lebay plis

alay kalo ngomong lebay

dasar anak jablay pilihannya jijay

alay orang bilang anak layangan

kampungan gayanya sok sokan”

15.00 WITA

Abis ngemil roti, nemenin Anton makan (lagi): nasi ayam, beli di dek 4, seharga Rp 12.000,-. Aku beli kopi item sama cheese crakckers di kafetaria “angkringan” seharga Rp 17.000,-. Mau nonton film gak jadi, soalnya yang lagi diputer film Skandal, tentang rumah tangga. Gambarnya rada porno. Tapi tenang aja, masih bisa nonton film yang lain, dengerin aja corong halo-halonya film yang diputer apaan. Beruntun kok, selesai 1 film, diputer film lain lagi. Tapi ya film-filmnya gitu deh… walaupun halo-halonya selalu bilang, “film terbaru dan terlaris saat ini… dibintangi oleh aktor dan aktris ternama…” Harga tiket Rp 10.000,-, lokasi teater film di dek 2.

Nebeng di kamar Anton gara-gara AC di kamarku mati. Ngobrol sama bapak-bapak sekamarnya tentang pindah kelas. Mereka beli tiket ekonomi, tapi terus di atas kapal nambah @Rp 200.000,- untuk pindah ke kelas 2A. Kita juga bisa sewa kamar ABK (Anak Buah Kapal) atau kamar perwira, yang jauh lebih enak daripada kamar-kamar kelas.

Oya, ngomongin film, kami akhirnya nonton Tinker Bell and The Great Fairy Rescue di netbook-ku. Kalo takut bosen, mendingan bawa film sendiri. Di kamar cuma ada 2 colokan listrik, jadi bawalah T, atau kabel rol.

17.00 WITA makan malam (?): nasi, ayam balado, sayur bening, ikan goreng, sambal, kering kentang hasil ngerampok si Joe.

Barusan aja makan, ngobrol-ngobrol, balik ke kamar mau nunggu jam makan malam, eh, belom ada setengah jam udah denger “Untuk penumpang kelas 1 dan 2, makan malam sudah kami sediakan. Petugas kami sudah siap melayani Anda…”

21.00 WITA Daratan!! Makassar

Sebelom turun dari kapal, ternyata kamarku dipindah lagi. Kali ini di 5018 E. Bareng sama 2 ibu tanpa ekspresi dengan anak bayinya masing-masing. Anton bilang, “ci, sepertinya nggak lebih lebih baik dari kamarmu sebelumnya…” Oh, man, kayaknya sih begitu. Aku bayangin bakal gak bisa tidur karena suara bayi nangis. Tapi sudahlah, biasanya brisik juga tetep aja molor sampe ngiler-ngiler kalo kecapekan. Saatnya turun dan menjajah Makassar walau sejenak.

Ini bener-bener pertama kalinya aku nginjek pulau di luar Jawa selain Bali. Aku dikatain, “ahhh, malu-maluin, masa udah sering ke luar negeri, tapi belom pernah keliling Indonesia.” Ihiks… Cintailah Indonesia kita, teman-teman!

Dengan bingung dan senang, kami turun dari kapal. Coba hubungi teman, tapi gak berhasil. Jadilah kami jalan kaki tanpa arah sampe tugu yang sponsornya bank Mandiri. Sepanjang jalan banyak pub sama karaoke. Kata Anton sih tempat gak bener. Sempat juga lihat pemandangan tragis: seorang wanita berpakaian seksi di drop dari motor sama suaminya sementara anaknya yang masih kecil nangis-nangis manggil, “mama, mama…” waktu motornya mulai jalan dan meninggalkan sang wanita yang menyeberangi jalan menuju ke pub tempat kerjanya. Ambigu dan ironis. Mungkin suaminya males kerja, jadi pilih istrinya yang kerja di pub karena gajinya gede. Mungkin juga mereka butuh banyak biaya jadi gantian kerja & jaga anak siang-malam. Mungkin… entahlah… ngganjel aja di hati.

Foto-foto sebentar di tugu, trus kami memutuskan balik dan belanja di Indomaret sebelum kembali ke kapal. Anton udah laper lagi. Aku nemenin Anton makan coto Makassar, sedangkan aku ngitungin coro (= kecoa) Makassar yang lewat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s